S.A.L.A.M

Selamat datang buat anda yang mengunjungi blog ini,
Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Rabu, 03 Oktober 2012

Makrofauna dan Mikrofauna


TINJAUAN PUSTAKA


2.1    Pengertian Tanah

Tanah sebagai media pertumbuhan memberikan pengaruh bagi kelangsungan hidup baik bagi tumbuhan maupun hewan terutama bagi hewan yang hidup di dalam atau permukaan tanah. Tanah adalah suatu substrat bagi organisme yang di dalamnya berisi berbagai komponen diantaranya adalah komponen biotis yaitu mikroorganisme serta komponen abiotikyaitu substansi organik yang berupa materri tumbuhan dan hewan  yang telah mati, akar-akar tanaman dan tanah itu sendiri.  Kelembaban, suhu udara, kesaraan tanah, kehidupan jasad renik dan fauna tanahsangat berpengaruh dalam menunjang kehidupan tanaman dan kesuburan tanah. Komponen di dalam tanah telah diketahui dapat memberikan sumbangan terhadapproses aliran energi  dari ekosistem setempat karena kelompok hewan ini mampu melakukan penghancuran terhadap meteri tumbuhan dan hewan yang telah mati. Bahan oraganik tanah yang berada dalam proses pelapukan akan menjadi bahan nutrisi jasad renik dan fauna tanah, sebagai akibatnya bahan ini akan berubah terus dan tidak mantap serta harus selalu diperbaharui melalui penambahan sisa tumbuhan atau hewan yang telah mati (Des.W.1995).


2.2    Simbiosis Mikrobia - Fauna Tanah

Banyak mikrobia yang telah diketahui dapat hidup secara bersimbiosi dengan fauna(hewan) tanah yang berada dalam fase larva, seperti Coleopptera, Diptera dan Hymenoptera. Hubungan ini khususnyayang bersifat permanen, umumnya terbentuk  bersama dengan fauna penghuni humus yang kurang mampu merombak sampah dedaunan yang terdapat di permukaan tanah. Hubungan ini dapat terjadi sebagian akibat kurangnya nutrisi dalam humus yang tersedia bagi fauna, sedangkan mikrobia simbiosisnya mampu mensintesis hara esensial yang tidak tersedia dalam tanah. Sebagai contoh, konsekuensi adanya hubungan ini, apabila khamir dikeluarkan dari usus atau sel usus sejenis kumbang, maka fauna akan tumbuh merana hingga vitamin B dan sterol khamir  ditambahkan ke dalam ransum makanannya. Beberapa bakteri usus mempunyai kemampuan untuk mencerna selulosa dan khitin , dan hasil perombakannya dapat digunakan oleh fauna inangnya. Adanya mikrobia usus yang memiliki enzim yang lebih potensial daripada fauna inangnya sudah diketahui lama, tetapi karena sebagian besar fauna ini berukuran mikro (Kemas, A , 2005).


2.3  Makrofauna dan Populasi Hewan Tanah

Bagian terbesar dari populasi hewan tanah adalah serangga. Kevan (1965) menyatakan bahwa artropoda yang paling menonjol adalah kelompok Arachnida dan colembola, yang juga cukup penting adalah kaki seribu (Diplopoda), rayap(Isoptera), larva diptera , kumbang dan larvanya(Coleptera) dan semut (hymenoptera). Sebagian besar dari kelompok hewan ini selain semut rayap dan kumbang hidup di atas permukaan sampah atau celah-celah di dalam tanah, atau didalam saluran yang disebabkan oleh akar tumbuhan, cacing tanah dan hewan penggali lainnya. Kebiasaan makan dari kelompok hewan artropoda ini sangat bervariasi, biasanya memakan bahan tumbuhan atau hewan yang telah mati. Bentuk artropoda penting karena mempunyai aktivitas dalam pengangkutan materi dari permukaan tanah ke dalam tanah atau pembentukan humus dan dalam perbaikan struktur tanah walaupun tidak sebesar sumbangan yang diberikan oleh cacing tanah (Notohadiprawiro, 1998).

Makrofauna tanah lebih menyukai keadaan lembab dan masam lemah sampai netral. Makrofauna  mempunyai peran yang sangat beragam di dalam habitatnya. Pada ekosistem binaan, keberadaannya dapat menguntungkan  dan merugikan bagi sistem budidaya. Dinamika populasi  makrofauna tanah tergantung pada faktor lingkungan  yang mendukungnya, baik berupa sumber makanan, kompetitor, predator maupun kedaan lingkungan fisika kimianya. Bahan organik tanaman merupakan sumber energi
            Sarang rayap Anoplotermes paciticus yang terdapat di dalam tanah  dapat dilubangi oleh akar - akar tanaman. Akar - akar tanaman tersebut dimakan oleh rayap, tetapi tidak menyebabkan tanaman tersebut mati karena sebagian besar akar yang tidak dimakan oleh rayap dapat menyerap bahan-bahan organik yang terdapat di dalam sarang rayap (Herawati.2007).

            Koloni rayap yang sangat besar misalnya Macrotermes, di dalam habitat savana dapat memindahkan lebih dari satu ton vegetasi setiap tahun. Oleh karena itu koloni Macrotermes  mampu membuat sarang dan menciptakan kondisi permukaan tanah yang sangat berbeda. Sarang rayap Macrotermes dapat mencapai ketinggian lebih dari 10 meter dan berdiri dengan sangat kokoh dan tidak mudah hancur oleh hujan atau hempasan angin . Sementara itu di daerah gurun vegetasi dapat bertahan di atas permukaan tanah jika tidak ada serangan sayap.Heterotermes aureus di gurun arizona dapat mengkomsumsi kayu seberat 78,9 kilogram per hektar per tahun. Serangan rayap banyak delakukan pada pohon mati setelah hujan turun. Hodotermes di daerah gurun Afrika Selatan berperanan penting dalam proses siklus nutrien tanah. Di daerah tersebut, pertumbuhan sangat didukung oleh adanya rayap karena rayap membawa aira ke daerah tumbuh tumbuhan sehingga ketersediaan air bagi pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik (Herawati.2007).

            Peledakan hama serangga satu dari interasi terbesar yang menakjuban antara tingkat tropik pada bioma ini adalah dampak yang disebabkan oleh larva Budworn spruce pada pohon-pohon yang dominan dan tentu saja juga ekosistem secara keseluruhan. Berkurangnya kekuatan pohon-pohon yang tua membuat pohon-pohon tersebut mudah terserang penyakit dan diversitas hutan tua yang rendah mempercepat penyebaran di seluruh hutan. Dalam keadaan yang lembab, teristemewa pada bioma waktu musim panas yang dingin terjadi ,keberhasilan hidup larva menurun. Taksiran kepadatan populasi organisme berdasarkan contoh adalah dengan cara menghitung jumlah organisme yang diteliti dalam satuan unit contoh. Dari seluruh habitatnya diambil sebesar ukuran tertentu dan organisme yang terdapat dalam contoh tadilah yang dihitung habitatnya itu merupakan suatu daerah yang luas maka diambillah seluas tertentu dari daerah  itu dihitunglah organisme yang terdapat di dalamnya. Satuan kepadatan populasi yang didapat dengan cara ini dinyatakan dalam jumlah per satuan luas  contoh( ekor per luas daerah contoh). Untuk suatu studi yang lebih serius, diperlukan studi pendahuluan yang lebih khusus pula mengenai bagaimana desain rancangan pencuplikannya. Aspek- aspek ini sangat tergantung dari tujuan penelitian dari spesies organisme yang diteliti, jadi tidak ada metode pencuplikan berlaku secara umum atau universal (McNaaughton,1990).

Di dalam tanah terdapat sekelompok organisme yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu ekosistem yang saling mempengaruhi yang terdiri dari mineral, air, udara, bahan-bahan organik dan sejumlah organisme besar dan kecil semuanya terikat dalam hubungan komunitas yang kompleks. Tanah sebagai media pertumbuhan memberikan pengaruh bagi kelangsungan hidup baik bagi tumbuhan maupun hewan, terutama buat hewan-hewan yang hidup di dalam atau di permukaan tanah. Kelembaban, suhu udara, kesaraan tanah, kehidupan jasad renik dan fauna tanah sangat berpengaruh dalam menunjang kehidupan tanaman dan kesuburan. Tanah adalah suatu substrat bagi organisme yang di dalamnya berisi berbagai komponen diantaranya adalah komponen biotis yaitu mikroorganisme dan makroorganisme serta komponen abiotik yaitu substansi organik yang berupa materi tumbuhan dan hewan yang telah mati,akar-akar tanaman dan tanah itu sendiri (Des W. 1995).


2.4  Komponen Hewan Tanah

Komponen biotis di dalam tanah telah diketahui dapat memberikan sumbangan terhadap proses aliran energi dari ekosistem setempat ,karena kelompo hewan ini mampu melakukan penghancuran terhadap materi tumbuhan dan hewan yang telah mati. Bahan organik tanah yang berada dalam proses pelapukan akan menjadi bahan nutrisi jasad renik dan fauna tanah,sebagai akibatnya bahan ini akan berubah terus dan  mantap serta harus haruselallu diperbaharui melalui penambahan sisa tumbuhan atau hewan yanhg telah mati. (Des.W.1995).



BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1   Hasil dan  Pembahasan
4.1.1  Data
Hasil pengamatan Pit Fall Trap 12 jam pertama (Malam-pagi)
No.
Spesies
Famili
                        P  L  O  T
jlh
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12


1
Bufo sp

Bufonidae

-

-

-

1

-

1

-

-

-

-

-

1

3


2.     
Camponatus
pennsylvanicus
Formicidae
-
2
-
-
-
1
-
-
1
-
-
2
6


Hasil pengamatan Pit Fall Trap 12 jam kedua (pagi-sore)

No.
Spesies
Famili
                        P  L  O  T
jlh
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

1
Bufo sp

Bufonidae


-

-

-

-

-

1

-

-

-

1

-

-

2
2  
Camponatus
Pennsylvanicus
Formicidae

2

1

-

2

-

-

-

1

2

2

-

-

10
3

Allonemobius sp
Gryllidae
-
-
-
1
-
-
1
1
-
-
-
-
3





4.2 Pembahasan

Di dalam tanah terdapat sekelompok organisme yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu ekosistem yang saling mempengaruhi yang terdiri dari mineral, air, udara, bahan-bahan organik dan sejumlah organisme besar dan kecil semuanya terikat dalam hubungan komunitas yang kompleks. Tanah sebagai media pertumbuhan memberikan pengaruh bagi kelangsungan hidup baik bagi tumbuhan maupun hewan, terutama buat hewan-hewan yang hidup di dalam atau di permukaan tanah. Kelembaban, suhu udara, kesaraan tanah, kehidupan jasad renik dan fauna tanah sangat berpengaruh dalam menunjang kehidupan tanaman dan kesuburan.

Dari  praktikum yang kami lakukan kami memperoleh hasil bahwa pada sebidang area yang kami teliti terdapat hewan tanah antara lain  Bufo sp, Camponatus Pennsylvanicus dan , Allonemobius sp yang terjatuh dalam perangkap botol. Botol tersebut berisikan campuran antara formalin 4% dan detergen. Dalam praktikum pit fall trap ini, formalin berfungsi untuk mengawetkan setiap hewan tanah yang terjatuh dan terjebak dalam perangkap botol jebak sedangkan detergen  berfungsi untuk mengurangi tekanan permukaan cairan atau yang kita kenal juga dengan nama viskositas cairan sehingga  hewan – hewan kecil seperti serangga jatuh dalam perangkap.

Dari pengamatan yang dilakukan pada percobaan Pit Fall Trap dengan dua kali pengamatan maka diketahui hewan yang masuk jebakan (berhasil dijebak) adalah kelompok semut dari famili Formicidae yaitu Camponatus Pennsylvanicus   ekor dan pada pengamatan kedua (sore) diperoleh 10 ekor, jadi totalnya 16 ekor. Ditemukan  juga Allonemobius sp  kelompok laba-laba kecil dari famili Gryllidae sebanyak tiga ekor hanya pada pengamatan pertama. Disamping dari kelompok Artropoda ada juga kelompok kodok juga yaitu Bufo sp famili Bufonidae didapat 3 ekor pada pengamatan  pertama dan 2 ekor pada perlakuan kedua. Totalnya ada 5 ekor. Semut Camponatus Pennsylvanicus  adalah semut hitam yang besar yang menggali serentetan lorong-lorong yang saling berhubungan di dalam kayu untuk sarangnya (Donald  J.B,1989)


BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN



5.1.1  Kesimpulan

a.     Populasi hewan tanah (serangga) di tanah dapat diketahui melalui percobaan Pit Fall Trap yang akan menjebak hewan tersebut melalui suatu perangkap berupa lubang. Ditaksir ada populasi semut (Camponatus Pennsylvanicus  ) sebanyak 16 ekor, populasi cengkerik (Allonemobius sp  ) sebanyak tiga ekor, dan populasi kodok (Bufo sp) sebanyak 3 ekor.

b.    Komposisi dan struktur hewan yang aktif di dalam tanah sangat bervariasi mulai dari hewan kecil (mikrofauna) sampai yang ukuran besar (makrofauna).



5.1.2   Saran     

 

a.       Pada praktikum selanjutnya sebaiknya dalam penentuan lokasi diusahakan di tempat yang datar , tidak tergenang air dan tidak ditumbuhi oleh akar tanaman yang keras dan sulit digali
b.      Sebaiknya setiap prosedur dijalankan dengan baik agar hasil yang dicapai terwujud





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar