S.A.L.A.M

Selamat datang buat anda yang mengunjungi blog ini,
Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Sabtu, 02 Juni 2012

PEMBUATAN KERTAS SECARA TRADISIONAL DENGAN MENGGUNAKAN BATANG PAPYRUS


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kecenderungan industri kertas di masa lalu menggunakan bahan baku yang sebagian besar berasal dari virgin pulp yang menggunakan bahan baku kayu. Seiring dengan makin terbatasnya pasokan kayu, dan makin tingginya kesadaran dunia terhadap masalah lingkungan, maka pada dekade terakhir berkembang pesat penggunaan kertas bekas sebagai bahan baku industri kertas (daur ulang). Disamping itu, pemakaian kertas bekas sebagai bahan baku industri juga dipicu oleh harganya yang relatif murah serta adanya dukungan teknologi yang dapat dipakai untuk membuat kertas dengan kualitas yang lebih baik. Kebutuhan kertas bekas untuk industri kertas nasional pada saat ini sekitar 6 juta ton per tahun, sekitar 3 juta ton dipasok dari pengumpulan kertas bekas lokal, sisanya sekitar 3 juta ton masih diimpor (Dirjen, 2009).
Papirus atau Papyrus (nama ilmiah: Cyperus papyrus) adalah sejenis tanaman air yang dikenal sebagai bahan untuk membuat kertas pada zaman kuno. Tanaman ini umumnya dijumpai di tepi dan lembah Sungai Nil. Kira-kira 3500 SM, bangsa Mesir Kuno sudah memanfaatkan papirus. Mereka pada saat itu membuat kertas dari kulit-kulit tipis atau kulit-kulit halus papirus, sebelum kertas (seperti yang kita kenal sekarang) ditemukan (Azwar, 2008).
Jauh sebelum manusia mengenal kertas, berbagai dokumen dicatat di dengan menggunakan media papirus. Beberapa catatan sejarah menyatakan bahwa bangsa Asyur dan Babel telah menggunakannya sejak abad 17 SM, sementara bangsa Mesir telah mempopulerkannya sejak abad 30 SM. Papirus adalah tumbuhan sejenis alang-alang yang banyak tumbuh di Eropa Selatan dan Afrika Utara yang tinggi tangkainya mencapai 10 hingga 15 kaki. Tangkainya berbentuk segitiga secara bersilangan dan di sekeliling dasarnya tumbuh beberapa daun yang berserabut pendek. Masyarakat kuno biasa menggunakannya untuk membuat anyaman (Kel 2:3), perahu (Yes 18:2) dan terutama sebagai sarana menulis. Dari kata papirus inilah kita mengenal kata paper (Ing.), papier (Bld), atau papel (Spa.) yang artinya kertas (Ryu, 2009).
Penggunaan papirus sebagai media tulis menulis ini digunakan pada peradaban Mesir Kuno pada masa wangsa firaun kemudian menyebar ke seluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan menyebar ke seantero Eropa, meskipun penggunaan papirus masih dirasakan sangat mahal. Dari kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris, papier dalam bahasa Belanda, bahasa Jerman, bahasa Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas (Anonimous, 2010).
Untuk membuat kertas batangnya dikuliti. Lalu dipotong-potong dalam ukuran kira-kira 40-45 cm dan sumsumnya yang masih baru yang ada di dalamnya diiris tipis-tipis menjadi pita-pita. Pita-pita ini diletakkan berjejer berdampingan diatas papan yang keras, yang satu menindih sedikit yag lain, dan demikianlah seterusnya, tapi saling menyilang dengan sudut siku-siku; lalu kedua lapis ini disatukan seluruhnya, hanya dengan menunbuknya kuat-kuat dengan palu kayu. Sesudah tepi-tepinya dipotong bagus dan agak dihaluskan, hasilnya ialah selembar kertas yang keputih-putihan, yang bisa tahan lama, tapi bisa berubah menjadi kekuning-kuningan dalam perjalanan umurnya (Saxman, 2006).
            Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui cara pembuatan kertas dengan menggunakan papyrus dan mengukur kadar airnya.

TINJAUAN PUSTAKA
Gambaran Umum Papirus
Papirus adalah sejenis tanaman air yang dikenal sebagai bahan membuat kertas pada zaman kuno. Tanaman ini umumnya dijumpai di tepi dan lembah sungai nil. Kira-kira 3500 SM, bangsa Mesir kuno sudah memanfaatkan papirus. Mereka pada saat itu membuat kertas pada kulit-kulit tupus atau kulit-kulit halus papirus, sebelum kertas ditemukan.
Klasifikasi
Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)
Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas               : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Ordo                : Cyperales
Famili              : Cyperaceae
Genus              : Cyperus
Spesies            : Cyperus papyrus
Dengan lebih seksama, dan rumah yang dibangun seharusnya ekologis. Kebutuhan atas perkembangan berkelanjutan belum pernah se penting seperti sekarang. Pengaruh perabadan manusia cenderung merusak lingkungan sebagai dasar kehidupannya. Berdasarkan pertimbangan tersebut, tim dari lembaga pendidikan lingkungan, manusia, dan bangunan menyusun 10 patokan ini sebagai standar rumah ekologis yang sehat.          
Secara fisik, daun pohon ini mirip rambut terjurai. Tangkainya tumbuh setinggi 3-5 meter, berbentuk segitiga secara bersilangan. Di sekeliling dasar tangkai tersebut tumbuh dedaunan berserabut pendek. Karakter pohon papirus sangat halus, tanpa bonggol-bonggol dan duri-duri yang menuju pada kelompok bunga besar, nyaman, dan berbentuk rumbai. Konon karena perubahan geografis di daerah sungai Nil dan berkembangnya pemakaian kulit binatang sebagai media untuk menulis, papirus di Mesir tidak lagi berkembang biak dengan suburnya. Penanaman menjadi sukar dan populasi papirus menurun dengan drastis. Namun demikian, sekarang papirus banyak tumbuh di tepi-tepi danau kecil dan sungai-sungai di Afrika (Azwar, 2008).

Potensi Papirus
            Sebelum masuk ke areal paper machine pulp diolah dulu pada bagian stock preparation. bagian ini berfungsi untuk meramu bahan baku seperti: menambahkan pewarna untuk kertas (dye), menambahkan zat retensi, menambahkan filler (untuk mengisi pori - pori diantara serat kayu), dlln. Bahan yang keluar dari bagian ini di sebut stock 9campuran pulp, bahan kimia dan air). Dari stock preparation sebelum masuk ke headbox dibersihkan dulu dengan alat yang disebut cleaner. Dari cleaner stock masuk ke headbox. headbox berfungsi untuk membentuk lembaran kertas (membentuk formasi) diatas fourdinier table. Fourdinier berfungsi untuk membuang air yang berada dalam stock (dewatering). Hasil yang keluar disebut dengan web (kertas basah). Kadar padatnya sekitar 20 %. Press part berfungsi untuk membuang air dari web sehingga kadar padatnya mencapai 50 %. Hasilnya masuk ke bagaian pengering (dryer). Cara kerja press part ini adalah. Kertas masuk diantara dua roll yang berputar. Satu roll bagian atas di beri tekanan sehingga air keluar dari web. Bagian ini dapat menghemat energi, karena kerja dryer tidak terlalu berat (air sudah dibuang 30 %). Dryer berfungsi untuk mengeringkan web sehingga kadar airnya mencapai 6 %. Hasilnya digulung di pop reel sehingga berbentuk gulungan kertas yang besar (paper roll). Paper roll ini yang dipotong - potong sesuai ukuran dan dikirim ke konsumen (Susilo, 2010).

Ruang Lingkup Pulp dan Kertas
            Ruang Lingkup Industri Pulp dan Kertas Cakupan industri pulp dan kertas berdasarkan pengelompokan atau kategorisasi yang dilakukan oleh Departemen Perindustrian dan Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) adalah sebagai berikut :
Cakupan industri kertas meliputi :
1.      Kertas budaya terdiri atas : kertas koran, kertas tulis cetak dan kertas berharga (kertas untuk saham, kertas perangko, dan lain-lain).
2.      Kertas industri terdiri atas : sack kraft (kertas kantong semen), kraft liner, corrugating medium, board, dan kertas bungkus.
3.      Kertas tissue terdiri atas : kertas tissue rumah tangga dan kertas sigaret.
4.      Kertas khusus (specialty paper), meliputi : kertas uang, kertas dekor, kertas overlay, kertas thermo, kertas label, dan lain-lain (Dirjen, 2009).
Meningkatnya kebutuhan pulp & kertas tercermin dari meningkatnya kapasitas. Dalam periode 2003 – 2008, kapasitas pulp di dalam negeri meningkat rata-rata 0,6% per tahun. yaitu dari 5,2 juta ton menjadi 6,4 juta ton per tahun. Dan pada 2010, kapasitas terpasang industri pulp diperkirakan akan meningkat lagi menjadi 7.5 juta ton per tahun, seiring dengan beroperasinya pabrik baru. Pada priode yang sama, kapasitas produksi kertas juga mengalami peningkatan yang berarti, dari 9,0 juta ton menjadi 10,3 juta ton per tahun. Peningkatan ini sejalan dengan perluasan pabrik di sektor industri ini. Di Indonesia sedikitnya tercatat 84 pabrik pulp & kertas, terbagi atas 14 pabrik kertas terpadu dengan industri bahan bakunya (pulp), 67 pabrik kertas dan 3 pabrik pulp           (Mediadata, 2008).

Ukuran Serat Papirus
            Halaman yang serat-seratnya mendatar, itulah yang biasanya yang lebih dahulu ditulisi (kecuali untuk surat-surat) dan halaman itu disebut rekto; halaman baliknya dengan serat-serat yang tegak lurus disebut verso. Lembaran-lembaran ini direkatkan pada ujungnya yang satu kepada yang lain dengan saling bertindih sedikit, untuk membuat gulungan papyrus atau kertas. Patokan panjangnya adalah 20 lembar, tapi dapat diperpendek dengan memotongnya sedikit, atau diperpanjang dengan menempelkan lagi lembaran-lembaran yang lain sesuai keperluannya. Papyrus terpanjang yang kita kenal ialah Papyrus Hariys I, tahu penulisannya kira-kira 1160 sM, sekarang disimpan di British Museum, London; panjangnya hampir kira-kira 40 meter. Lembar papyrus berbeda-beda menurut kegunaannya, ukuran terbesar lebarnya ± 47 Cm, ukuran biasa 35.5 Cm dan 42 Cm, ukuran yang lebih kecil ± 18-21 Cm. Lembaran papyrus ukuran besar dan sedang biasanya untuk surat-surat resmi, surat dagang dan rekening. Sedangkan lembaran papirus yang kecil biasanya untuk karya-karya sastra.
(Saxman, 2006).


METODOLOGI PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 3 Mei 2011 pada pukul 11.40 wib sampai dengan selesai yang dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan, Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Bahan dan Alat
            Adapun bahan dan alat yang digunakan adalah sebagai berikut :
Bahan
  1. Papirus sebagai bahan yang akan dibuat menjadi kertas
  2. Air sebagai bahan untuk membasahi papyrus agar tidak cepat kering dan memudahkan untuk menyatukan serat-serat pada papyrus
Alat
  1. Ember sebagai wadah untuk membasahi papyrus
  2. Botol sebagai alat untuk menggiling papyrus yang sudah diiris tipis agar serat-seratnya menyatu
  3. Pisau / cutter sebagai alat untuk memotong papyrus dan mengiris papyrus sesuai yang diharapkan
  4. Aluminum foil sebagai alat untuk membungkus bagian papyrus yang akan dijadikan kertas atau sebagai pembatas dengan kelompok yang lain
  5. Mesin kempah sebagai alat untuk mengempah bahan agar serat-serat menjadi satu dan menjadi kertas dan mengurangi air serat tersebut

Prosedur Praktikum
            Adapun prosedur praktikum yang dilakukan adalah sebagai berikut ini:
  1. Disediakan alat dan bahan yang akan dikerjakan
  2. Dipotong papyrus dengan ukuran 30 cm, kemudian kulit ari papyrus dibuang
  3. Setelah Papirusnya dikupas kemudian diiris bahan tersebut setipis mungkin
  4. Lalu bahan tersebut disusun secara bersilangan dengan banyaknya lapisan yaitu 3 lapis bagian
  5. Kemudian serat yang telah disusun, dilakukan penggilingan agar potongan tipis itu menyatu
  6. Setelah semua potongan tipis itu menyatu maka dilapisi dengan aluminium foil dan diletakkan ke dalam mesin kempa. Lalu dilakukan pengempaan dan dilihat hasilnya setelah 3 hari kemudian.
  7. Kemudian ditimbang bahan yang telah dikeringkan selama 3 hari untuk mengetahui kadar airnya dan dicatat hasilnya


HASIL DAN PEMBAHASAN
Papyrus merupakan bahan pembuat kertas yang sudah lama ada sejak masehi dan sudah digunakan nenek moyang kita untuk dijadikan kertas, tanaman obat, dan sebagainya. Tanaman ini sudah sejak lama dikenal, tetapi penggunaan kertas dengan menggunakan papyrus sudah jarang digunakan terutama bagi bangsa Indonesia. Hal ini sesuai dengan pernyataan Dirjen Industri Agro dan Kimia (2009) bahwa kecenderungan industri kertas di masa lalu menggunakan bahan baku yang sebagian besar berasal dari virgin pulp yang menggunakan bahan baku kayu. Seiring dengan makin terbatasnya pasokan kayu, dan makin tingginya kesadaran dunia terhadap masalah lingkungan, maka pada dekade terakhir berkembang pesat penggunaan kertas bekas sebagai bahan baku industri kertas (daur ulang).
Apabila dilihat dari zaman sekarang dimana kebutuhan kertas semakin meningkat maka pemanfaatan papyrus juga perlu dikembangkan. Karena papyrus merupakan salah satu tumbuhan yang dapat tumbuh sendiri di rawa atau kondisi yang lembab tanpa pemeliharaan (tanaman liar) dan dapat digunakan sebagai media alat tulis menulis. Hal ini didukung oleh pernyataan Azwar (2008) bahwa Papirus atau Papyrus (nama ilmiah: Cyperus papyrus) adalah sejenis tanaman air yang dikenal sebagai bahan untuk membuat kertas pada zaman kuno.
Berdasarkan metode yang dilakukan bahwa pembuatan kertas dengan menggunakan papyrus tidak berhasil karena lapisan tiap potongan papyrus kurang rapat sehingga ada bagian yang tidak tertutupi dan membuat potongan tersebut tidak menyatu. Selain itu kondisi kelembaban papyrus dimana selisih waktu pengambilan dengan pemtongan terlalu lama sehingga kelembabannya berkurang dan proses penggilingan untuk menyatukan potongan-potongan menjadi sulit. Hal ini didukung dengan pernyataan Saxman (2006) bahwa papyrus dipotong dengan ukuran 40-45 cm dan sumsumnya yang masih baru yang ada di dalamnya diiris tipis-tipis menjadi pita. Pita ini diletakkan berjejer berdampingan diatas papan yang keras dan saling menyilang, lalu lapisan-lapisan itu disatukan seluruhnya  dan hanya dengan menumbuknya kuat-kuat dengan palu kayu. Maka dihasilkan kertas yang keputih-putihan tapi bias berubah menjadi kekuning-kuningan.
Dengan demikian berdasarkan hasil yang diperoleh kertas dengan menggunakan papyrus hasilnya akan berwarna kuning agak kecoklatan apabila dibiarkan beberapa hari dan pembuatan kertas dengan menggunakan papyrus tidak berhasil karena lapisan tiap potongan papyrus kurang rapat sehingga ada bagian yang tidak tertutupi dan membuat potongan tersebut tidak menyatu. Selain itu kondisi kelembaban papirus dimana selisih waktu pengambilan dengan pemotongan terlalu lama sehingga kelembabannya berkurang dan proses penggilingan untuk menyatukan potongan-potongan menjadi sulit. Bahan yang tersedia untuk membuat kertas dari papyrus terbatas jadi kebanyakan industri kertas menggunakan kertas bekas untuk dapat didaur ulang.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar. 2008. Papirus. http://www.azwar.web.ugm.ac.id. Diakses tanggal 5 Mei 2011

Dirjen Industri Agro dan Kimia. 2009. Roadmap Industri Kertas. Departemen Perindustriaan. Jakarta

Mediadata. 2008. Prospek Industri Pulp dan Kertas di tengah Krisis Bahan Baku. www.mediadata.co.id. Diakses tanggal 10 Mei 2011.

Ryu. 2009. Papirus (Nenek Moyang Kertas). http://www.ebahana.com/warta-1835-Papirus-Nenek-Moyang-Kertas.html. Diakses tanggal 5 Mei 2011

Saxman. 2006. Papyrus. Sarapan Pagi Biblika. Jakarta.

Susilo, J. 2010. Proses Pembuatan Kertas. Berita IPTEK. Jakarta.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar