S.A.L.A.M

Selamat datang buat anda yang mengunjungi blog ini,
Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Rabu, 02 November 2011

Pengukuran GEODESI BUMI


PENGUKURAN JARAK HORIZONTAL

llmu ukur tanah merupakan bagian rendah dari ilmu yang lebih luas yang dinamakan ilmu Geodesi.
                              Plan Surveying
Geodesi     
       Geodetic Survaying
Ilmu Geodesi mempunyai dua maksud : 
  1. Maksud ilmiah  : menentukan bentuk  permukaan bumi 
  2. Maksud praktis  : membuat  bayangan yang  dinamakan  peta  dari sebagian besar atau  sebagian kecil permukaan bumi.
Ilmu ukur tanah pada dasarnya terdiri dari tiga bagian besar yaitu :
A)    Pengukuran kerangka dasar Vertikal(KDV)
B)    Pengukuran kerangka dasar Horizontal(KDH)
C)    Pengukuran Titik-titik Detail

Bentuk bumi merupakan pusat kajian dan perhatian dalam Ilmu ukur tanah. Proses penggambaran permukaan bumi secara fisiknya adalah berupa bola yang tidak beraturan bentuknya dan mendekati bentuk sebuah jeruk. Hal tersebut terbukti dengan adanya pegunungan, Lereng-lereng, dan jurang jurang. Karena bentuknya yang tidak beraturan maka diperlukan suatu bidang matematis. Para pakar kebumian yang ingin menyajikan informasi tentang bentuk bumi, mengalami kesulitan karena bentuknya yang tidak beraturan ini, oleh sebab itu, mereka berusaha mencari bentuk sistematis yang dapat mendekati bentuk bumi. (Purwaarnijaya, 2008). 


Gambar : Bentuk Bumi

            Pengukuran jarak (Triono. B.A, 2001 adalah penentuan jarak antara dua titik di permukaan bumi, biasanya yang digunakan adalah jarak horizontalnya. Hal ini terjadi karena bidang peta adalah bidang datar sedangkan bidang muka bumi adalah bidang lengkung. Distorsi yang terjadi akan semakin besar jika memetakan daerah yang lebih dari kurang lebih 50 m2 , jika kurang dari 50 m2 permukaan bumi dianggap datar. Hal ini menjadi kesepakatan umum dalam ilmu geodesi (ilmu ukur tanah). Mencari titik di lapangan adalah suatu pekerjaan pengukuran yang hasilnya nanti akan digambar. Sebelum titik diukur. Hasil pengukuran diberi tanda terlebih dahulu sehingga dalam pengukuran tanda mudah dilihat dari dekat atau jauh. Dalam pengukuran yang terpenting adalah pengukuran titik-titik baik yang sudah ada atau baru mencari. Pengukuran jarak dilapangan berdasarkan jenis alatnya dapat dibedakan menjadi : 

  1. Pengukuran jarak langsung, pengukuran ini biasanya menggunakan instrumen atau alat ukur jarak langsung misalnya pita ukur, alat ukur jarak elektronik, dan lain-lain
  2. Pengukuran jarak tidak langsung, pengukuran ini biasanya menggunakan instrument alat ukur jarak takimetri dan metode optik. Misalnya theodolit, alat sipat datar, dan lain-lain.
Sebelum melakukan survei ada beberapa hal yang harus dipersiapkan yaitu mengidentifikasi jenis data yang akan dikumulkan pada saat survey (Yulfa, 2007).  

Pengukuran dan Pemetaan Titik Dasar TeknikTitik-titik dasar teknik diperlukan sebagai kerangka dasar referensi nasional. Secara sederhana dapat  dijelaskan bahwa titik-titik ini diperlukan untuk pemetaan bidang tanah secara nasional, di mana letak, ukuran, luas dan dimensi lain dari suatu bidang tanah dapat diketahui dan direkonstruksi secara tepat dan akurat. Pengukuran titik dasar teknik orde 2, 3, dan 4 dilaksanakan dengan menggunakan metoda pengamatan satelit atau metoda lainnya. Metoda yang dimaksud adalah penentuan posisi dengan Global Positioning System (GPS). GPS adalah sistem penentuan posisi dan radio navigasi berbasis satelit yang dapat digunakan oleh banyak orang sekaligus (simultan) dan dalam segala keadaan cuaca, memberikan posisi dan kecepatan tiga dimensi secara teliti, dan juga informasi mengenai waktu, secara kontinyu di seluruh dunia. Sebelum suatu bidang tanah diukur, wajib dipasang dan ditetapkan tanda-tanda batasnya, setelah mendapat persetujuan dari pemilik tanah yang berbatasan langsung. Apabila sampai dilakukannya penetapan batas dan pengukuran bidang tanah tidak tercapai kesepakatan mengenai batas-batasnya (terjadi sengketa batas), maka ditetapkan batas sementara yang menurut kenyataannya merupakan batas bidang-bidang tanah yang bersangkutan. Kepada yang bersengketa diberitahukan agar menyelesaikannya melalui Pengadilan. Pengukuran bidang tanah dapat dilakukan secara terestrial, fotogrametrik, atau metoda lainnya. Pengukuran terestris adalah pengukuran dengan menggunakan alat ukur theodolite berikut perlengkapannya seperti: pita ukur, baak ukur, electronik distance measurement (EDM), GPS receiver, dan lain sebagainya. Adapun pemetaan secara fotogrametrik adalah pemetaan melalui foto udara (periksa foto simulasi di atas). Hasil pemetaan secara fotogrametrik berupa peta foto tidak dapat langsung dijadikan dasar atau lampiran penerbitan Sertipikat Hak atas Tanah. Pemetaan secara fotogrametrik tidak dapat lepas dari referensi pengukuran secara terestris, mulai dari penetapan ground controls (titik dasar kontrol) hingga kepada pengukuran batas tanah. Batas-batas tanah yang diidentifikasi pada peta foto harus diukur di lapangan (Oktaviory, 2008).

            Salah satu dasar pekerjaan dalam ilmu ukur wilayah adalah penentuan jarak antara dua titik pada permukaan bumi. Pada jarak yang terbatas, jarak antara dua titik pada elevasi yang berbeda biasanya digunakan jarak horizontalnya. Pada pengukuran jarak dengan kira-kira dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan menggunakan skala pada peta dan metode langkah (pacing).

  1. Menggunakan skala pada peta = pengukuran ini memberikan hasil yang tepat dan hanya dilakukan di atas peta, bukan dilapang. Pengukuran cara ini dilakukan dengan mengukur jarak pada peta, yang kemudian dikalikan dengan angka skala peta tersebut.
  2. Metode Langkah (pacing) = P
            Dari sisi metoda pengukuran dapat dibedakan antara metoda pengukuran statik dengan pengukuran kinematik. Metoda pengukuran statik mengasumsikan bahwa antenna receiver tidak bergerak terhadap kerangka referensi, sedangkan metoda pengukuran kinematik menggunakan asumsi bahwa antena receiver bergerak terhadap titik referensi. Sedangkan dari sisi metoda pengolahan data, dapat dibedakan antara pengolahan satu titik (single point positioning - SPS,  absolute positioning) dan pengolahan baseline (differential positioning,  relative positioning) tunggal maupun dalam bentuk jaring. Berdasarkan variasi-variasi kemungkinan penggunaan teknologi di atas, dapat diurutkan sejumlah kemungkinan aplikasi GPS mulai dari yang paling teliti (dan paling mahal) untuk  keperluan ilmiah sampai yang paling seadanya (dan paling murah) untuk keperluan hiburan. Dalam rangka pembangunan informasi spasial, GPS dapat berperan mulai dari realisasi referensi koordinat dengan survai yang sangat teliti sampai pada kegiatan pematokan yang merupakan aplikasi hasil analisis informasi spasial. Geomatika adalah disiplin ilmu modern yang mengintegrasikan proses akuisisi, pemodelan, analisis, dan pengelolaan data yang bereferensi secara spasial. Dengan berdasar pada kerangka kerja ilmiah geodesi, geomatika menggunakan sensor-sensor terestris, kelautan, udara  dan dirgantara untuk memperoleh data spasial dan yang lainnya. Geomatika juga melibatkan Salah satu teknologi yang mampu mewujudkankan sistem referensi spasial yang bersifat global  adalah teknologi Global Positioning System (GPS) (Setyadji, 2006).  

            Pengukuran titik-titik poligon dilakukan dengan menggunakan alat theodolit dan rambu ukur, pengoperasiannya dilakukan baik di atas calon titik ikat topografi maupun titik bantu, metodenya dengan poligon tertutup dan terbuka, dan system yang dipakai adalah Tachymetry (penentuan jarak dan beda tinggi dengan cara optis dan rambu ukur). Titik awal pengukurannya adalah TU.O dan      BATAN 1, sedangkan proses pengukurannya adalah sebagai berikut :

  1. Mendirikan rangkaian theodolit diatas titik (patok) polygon.
  2. Mendirikan rambu ukur diatas titik poligon yang ada di depan dan di belakang titik dimana rangkaian theodolit didirikan.
  3. Memfokus dan mengarahkan teropong pada rambu ukur yang ada di belakang mengatur posisi nonius theodolit pada angka 000000000 , kemudian memutar teropong kearah rambu didepannya.
  4. Membaca dan mencatat pada tabel situasi terdiri dari : benang atas (ba), benang tengah (bt), benang bawah (bb), sudut mendatar (α) , heling (β), dan tinggi alat (ta).
  5. Membuat sketsa dan memberi keterangan situasi pada titik yang diukur.
Titik ikat adalah titik yang diketahui kordinat dan ketinggiannya, sehingga dapat digunakan sebagai pedoman pemetaan topografi (Sularto, 2002). 

            Mendirikan waterpas di antara dua titik target merupakan pekerjaan yang sering dijumpai di lapangan. Penempatan waterpas di antara dua titik target ini tidak perlu segaris dengan kedua titik tersebut, yang penting jarak di antara waterpas dan titik-titik tersebut diusahakan sama atau hampir sama panjangnya. Dalam aplikasi sesungguhnya jarak-jarak antara titik-titik tersebut panjangnya tidak diukur (secara optis) dengan alat waterpas, tetapi diukur dengan alat ukur jarak langsung (misalnya pita ukur, EDM dan lainnya)(Teknik, 2001). 

            Adapun pengukuran dengan menggunakan teodolit dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Untuk mempermudah pengukuran maka dibuat stasiun-stasiun. Pada jarak yang terbatas, jarak antara dua titik pada elevasi yang berbeda biasanya digunakan jarak horizontalnya. 

            Oleh karena itu pengukuran jarak horizontal ini sangat penting dilakukan karena selain kita dapat pandai mengukur suatu permukaan datar dan miring maka kita dapat juga memperoleh profil tanah datar atau tanah yang dalam keadaan miring yang kita ukur jarak horizontalnya. Pengukuran dapat dilakukan dengan menggunakan teodolit manual dan digital serta rambu ukur untuk mengukur jarak dan tingginya.

            Adapun tujuan dari praktikum pengukuran jarak horizontal adalah untuk mempelajari cara pengukuran jarak horizontal antara dua titik atau objek yang dijadikan sebagai batas-batas pengukuran.

METODOLOGI

Bahan dan Alat
Bahan
            Adapun bahan yang digunakan adalah :
1.      Buku data untuk mencatat data-data yang penting
2.      Langkah kaki untuk menentukan jarak pada pengukuran jarak horizontal
Alat
            Adapun alat yang digunakan adalah :
1.      Pulpen sebagai alat tulis dalam penulisan data
2.      Kalkulator sebagai alat hitung data yang diperoleh
3.      Rambu ukur sebagai alat bantu dalam pengukuran jarak horizontal yakni dalam penggunaan teodolit
4.      Pita ukur sebagai alat untuk mengukur jarak dan panjang
5.      Teodolit manual dan teodolit digital sebagai alat pengukur jarak horizontal
6.      Jalon sebagai alat bantu teodolit dalam pengukuran jarak dan tinggi pohon
7.      Phi-band sebagai alat untuk mengukur diameter pohon
8.      Chreesten meter sebagai alat untuk mengukur tinggi pohon
9.      Clinometer sebagai alat untuk mengukur tinggi pohon secara praktis

Prosedur
            Adapun prosedur ini adalah sebagai berikut :
  • Metode Langkah
  1. Dipersiapkan / distel teodolit beserta statifnya.
  2. Diukur jarak 30 m dari kaki statif dengan menggunakan pita ukur .
  3. Ditancapkan jalon pada jarak 30 m.
  4. Diukur jarak 30 m tersebut dengan menggunakan langkah kaki setiap praktikan anggota pergi dan pulang .
  5. Dijumlahkan lalu dibagi dua (langkah pergi dan pulang).
  6. Dilakukan sebanyak jumlah praktikan dalam kelompok.
  7. Dimasukkan hasilnya ke dalam tabel.
  8. Dihitung konversi langkah tiap praktikan dengan menggunakan rumus :
                   Tabel I. Hasil Pengukuran Metode Langkah
No
Nama
Praktikan
Langkah A-B
Langkah B-A
Rata-rata
Konversi
langkah






å (Rata-rata konversi langkah )


  • Metode Stadia
  1. Diletakkan jalon di titik yang berjarak 10 m dari teodolit.
  2. Diatur teodolit sampai terdapat fokus dari rambu ukur.
  3. Dibaca hasil dari teodolit.
  4. Dicatat dalam buku data.
Tabel II. Hasil Pengukuran Metode Stadia
Theodolit
Bacaan atas
Bacaan bawah
Jarak (m)
Azimut
Kelerengan
Manual





Digital






Tabel III. Hasil Pengukuran Diameter dan Tinggi
No
Jenis Pohon
Christeen meter
Clinometer
Pita Ukur
Phiband













Kesimpulan :
1.      Pengukuran langkah sangat dipengaruhi oleh lebar langkah praktikan yakni semakin lebar langkah praktikan maka jumlah langkah yang diperoleh sedikit tetapi jika semakin kecil praktikan melangkah maka jumlah langkah yang diperoleh praktikan tersebut sedikit.
2.      Pengukuran jarak horizontal dilakukan di hutan Tridarma dan ternyata hasil perhitungan yang diperoleh menunjukkan bahwa hutan Tridarma memiliki profil tanah yang rata.
3.      Pengukuran tinggi dan diameter pohon yang diperoleh menunjukkan bahwa pohon-pohon tersebut memiliki ukuran diameter yang sama dan diperkirakan umur pohon-pohon tersebut masa juvenil.
4.      Pengukuran jarak horizontal yang dilakukan dengan menggunakan teodolit manual yakni sebesar 28 m memiliki ukuran jarak yang berbeda bila diukur dengan teodolit digital yakni 22 m.
5.      Untuk mengukur tinggi dan diameter pohon dapat digunakan alat sebagai berikut : pita ukur, clinometer, chreesten meter, dan phy-band.


DAFTAR PUSTAKA
Oktaviory, D. 2008. Pemetaan Pengukuran dan.http: //dennyoktaviory.co.cc/index2.php? option=com_content&do  [20 September 2009]

Purnaarwijaya, I. 2008. Teknik Survei dan Pemetaan. . http//:scribd.com/../kelas-x-SMK-tekniksurveidan pemetaan.iskandar.pdf Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta.

Setyadji, B. 2006. Pemanfaatan Teknologi Global Positioning Global (GPS) Dalam Pembangunan Informasi Spasial. http//oc.its.ac.id/ambilfile.php?idp=403 ITB Press. Bandung.

Sularto, P. 2002. Penentuan Titik Ikat Topografi Dengan Menggunakan Theodolit T1 di Efka dan Sekitarnya. http//:digilib.batan.go.id/e-jurnal/artikel/eksplorium/..124../
priyo-s.pdf.  ITB Press. Bandung.

Teknik. 2001. Dasar-Dasar Pengukuran Beda Tinggi Dengan Alat Sipat Datar. http//:bos.
fkip.uns.ac.id/../penentuan-beda-tinggi-dan-posisi-titik.pdf.  Universitas Negeri
Yogyakarta Press. Yogyakarta.

Waluyanti, S, Santoso, D.,Slamet dan Rochayati, U. 2007. Alat Ukur Dan Teknik Pengukuran. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar