S.A.L.A.M

Selamat datang buat anda yang mengunjungi blog ini,
Segala informasi dalam blog ini merupakan bantuan dari buku-buku, majalah, dan lain-lain
Semoga blog ini bermanfaat bagi anda ^^.


Sabtu, 15 Oktober 2011

Penyulingan Minyak Kayu Putih



Mutu Minyak Kayu Putih

            Dalam dunia perdagangan, minyak kayu putih dikenal dengan nama cajeput oil yang diperoleh dari hasil penyulingan daun kayu putih (segar).
            Standar mutu minyak kayu putih menurut EOA adalah sebagai berikut :
-          Warna : cairan yang berwarna kuning atau hijau
-          Berat jenis pada 250C : 0.908 – 0,925
-          Putaran optik : 0 – (-40)
-          Indeks refraksi 200C : 14660 – 14720
-          Kandungan sineol : 50% - 65 %
-          Minyak pelikan : negatif
-          Minyak lemak : negatif
-          Kelarutan dalam alkohol 80% : larut dalam satu volume
           Untuk mempertahankan mutunya, sebaiknya minyak kayu putih dikemas dalam drum berlapis timah putih atau drum besi galvanis.

Kegunaan Minyak Kayu Putih
            Minyak kayu putih banyak digunakan dalam industri farmasi. Penduduk Indonesia telah mengenal minyak kayu putih sejak berabad-abad serta mempergunakannya sebagai obat gosok dan obat masuk angin untuk dewasa maupun anak-anak. 

Proses Produksi dan Perbaikan Mutu Minyak Kayu Putih
            Cara yang ditempuh untuk memproduksi minyak kayu putih bisa langsung dengan menyuling daunnya saja atau dengan cara menyuling daun kayu putih tersebut berikut ranting daunnya sepanjang lebih kurang 20 cm dari pucuk daun. Apabila yang disuling itu berikutnya dengan ranting daunnya, sebaiknya menggunakan perbandingan antara berat ranting terhadap berat daun sebesar 15 %, karena ranting daun hanya mengandung 0,1 % minyak. 

            Mengingat kandungan minyak atsiri di dalam ranting daun kayu putih relatif kecil dan sekaligus lebih efisiensi penyulingan, tentu akan lebih baik kalau yang disuling itu hanya daun-daunnya saja. Dengan demikian jumlah daun kayu putih yang dapat disuling akan lebih banyak. 

            Daun kayu putih yang akan disuling sebaiknya masih dalam keadaan segar atau paling tidak belum lebih dari 12 jam setelah dipanen. Apabila penyulingan daun tersebut dilakukan setelah 12 jam kemudian (daun sudah tidak segar lagi) maka rendemen serta kualitas minyak kayu putih yang dihasilkan akan berkurang. Kadar sineol yang merupakan komponen yang sangat penting dalam minyak kayu putih juga akan menurun. 

            Sebaiknya daun kayu putih disuling melalui penyulingan dengan uap atau penyulingan dengan air dan uap. Adapun total rendemen minyak kayu putih yang dihasilkan berkisar antara 0,5-1,5%, tergantung efektivitas penyulingan dan kadar minyak yang terkandung di dalam bahan yang disuling. 

           Jika proses penyulingan daun kayu putih dilakukan dengan uap dan mula-mula dipergunakan tekanan rendah (1 atm) serta kemudian tekanan berangsur-angsur dinaikkan sampai 1,5 atm dan pada selang setengah jam tekanan terakhir dinaikkan lagi sampai 2 atm maka untuk keter yang berkapasitas 1000 kg daun yang akan dibutuhkan waktu penyulingan sekitar 165 menit atau 2 jam 45 menit. 

            Jika proses penyulingan dilakukan dengan uap dan air yang menggunakan tekanan tidak lebih dari 1 atm dan suhu air kira-kira sama dengan suhu didih air (1000C) maka lama penyulingan untuk keter berkapasitas 1000 kg akan membutuhkan waktu 4-5 jam atau 2 kali lebih lama dibandingkan dengan penyulingan dengan uap.   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar